Amarannews.com. Kota Tanjungpinang-Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Kota Tanjungpinang membantu warga mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau. Dengan uang sekitar Rp200 ribu, warga bisa membawa pulang berbagai kebutuhan rumah tangga.
Salah seorang warga, Fika, mengaku membeli beras, minyak goreng, gula, bawang, dan sayuran dalam kegiatan GPM yang berlangsung di Jalan Garuda, halaman samping Masjid Al-Iltizam, Kilometer 8 Atas, Tanjungpinang, Kamis (22/10) pagi.
“Alhamdulillah dengan modal 200 ribu bisa beli kebutuhan pokok sebanyak ini,” ujar Fika.
Ia mengatakan, belanja dengan jumlah barang serupa diperkirakan bisa menghabiskan sekitar Rp300 ribu jika dibeli di pasar atau swalayan. Menurutnya, selisih harga sejumlah komoditas cukup terasa, terutama gula dan minyak goreng.
“Gula bisa selisih sekitar Rp4 ribu, sedangkan minyak goreng sekitar Rp5 ribu,” ucapnya.
Fika berharap kegiatan GPM bisa digelar lebih rutin, setidaknya sekali dalam sebulan. Menurutnya, kegiatan tersebut membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama saat harga komoditas seperti cabai dan bawang mengalami kenaikan.
“Jadi kalau dengan adanya gerakan pangan murah ini kan sangat membantu kita, apalagi yang punya usaha UMKM gitu,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Kota Tanjungpinang, Robert Lukman, menyampaikan GPM merupakan bagian dari gerakan pangan murah nasional yang digelar serentak dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia ke-46 tahun 2026.
Kegiatan tersebut juga disejalankan dengan pembukaan Gerakan TANJAK PANGAN (Tanjungpinang Ajak Jaga Pangan).
GPM bertujuan membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga lebih terjangkau sekaligus mendukung pengendalian inflasi daerah.
Dalam kegiatan itu, ayam segar dijual seharga Rp32 ribu per kilogram, sedangkan harga di pasaran berkisar Rp38 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram.
Robert menyebut kegiatan serupa tidak bisa terlalu sering digelar karena perlu mempertimbangkan keberlangsungan usaha pedagang di pasar umum.
“Kalau ini kita lakukan setiap hari, orang tidak akan belanja di pasar-pasar umum, para pedagang akhirnya bisa terdampak karena kita menjual dengan harga yang memang lebih murah,” ujarnya.
Mengenai harga jual, ia menjelaskan harga yang lebih rendah dalam kegiatan tersebut bukan berasal dari subsidi pemerintah. Vendor yang berpartisipasi bersedia mengurangi sebagian keuntungan agar masyarakat bisa membeli bahan pangan dengan harga lebih terjangkau.
“Kami bukan memberikan subsidi, vendor memiliki rasa empati untuk sedikit mengurangi keuntungan mereka karena selama ini masyarakat juga sudah banyak berbelanja,” pungkas Robert. (Red)















