Amarannews.com. Jakarta-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino pada 2026 masih akan bertahan hingga awal 2027. Kondisi ini perlu diwaspadai karena perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia dapat memengaruhi pola hujan hingga potensi cuaca ekstrem di Indonesia.
Berdasarkan pemutakhiran kondisi iklim dasarian I Oktober 2026, anomali suhu permukaan laut atau sea surface temperature (SST) di wilayah Nino 3.4 tercatat sebesar +0,33. Nilai tersebut menunjukkan kondisi laut di kawasan Pasifik tengah berada dalam fase yang lebih hangat dibandingkan kondisi normalnya.
Sementara itu, nilai anomali SST di wilayah Nino 3.4 pada periode Agustus-September-Oktober 2026 tercatat sebesar +3,08. Angka tersebut menunjukkan kondisi El Nino dengan intensitas sangat kuat.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang dapat memengaruhi sirkulasi atmosfer global. Di Indonesia, fenomena ini umumnya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan sehingga meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.
Selain El Nino, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika iklim di Indonesia. Interaksi kedua fenomena tersebut dapat memengaruhi distribusi curah hujan, suhu udara, hingga potensi terjadinya cuaca ekstrem.
BMKG mengingatkan pemantauan kondisi iklim perlu terus dilakukan untuk mengantisipasi dampak perubahan pola cuaca. Masyarakat juga perlu memperhatikan informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG, terutama terkait potensi kekeringan dan perubahan kondisi hujan di wilayah masing-masing. (Red)




















