Amaranews.com. London-Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerima penghargaan sipil Freedom of the City of London di Guildhall, London, Inggris, Jumat, (16/10). Penghargaan yang memiliki sejarah sejak abad ke-13 itu pernah diberikan kepada sejumlah tokoh dunia, termasuk Winston Churchill, Nelson Mandela hingga JK Rowling dan Stephen Hawking.
Anies menerima penghargaan tersebut setelah dinominasikan Alderman Alastair King, ketika menjabat Lord Mayor of London, bersama Alderman Gregory Jones KC.
Pencalonannya disetujui Court of Common Council pada Juni 2025. Dalam daftar pencalonan yang sama terdapat aktris Cate Blanchett.
Dalam upacara tersebut, Anies didampingi istrinya, Fery Farhati. Ia kemudian disambut sebagai “Citizen of London”, sesuai tradisi yang melekat pada pemberian Freedom of the City.
Penghargaan ini menambah catatan hubungan Anies dengan London, terutama dalam isu tata kelola perkotaan, transportasi publik, dan kerja sama internasional antarkota.
Anies: Freedom Ini Pintu, Bukan Piala
Dalam pidatonya seusai upacara, Anies mengaitkan penghargaan tersebut dengan gagasan tentang tanggung jawab negara kepada warganya. Ia menegaskan bahwa republik bukan sekadar cita-cita, melainkan janji yang harus dipenuhi.
“Di negara saya, sepanjang hidup saya berpendapat bahwa republik bukanlah sebuah harapan. Republik adalah sebuah janji. Para pendiri bangsa kami tidak menulis ‘kami berharap’. Mereka menulis ‘kami akan’: melindungi setiap warga negara, mencerdaskan setiap anak, menghadirkan kesejahteraan bagi semua. Janji adalah utang,” ujar Anies, seperti dikutip dari akun instagram miliknya, Sabtu (17/10).
Ia juga menyebut kemajemukan sebagai tantangan sekaligus kekuatan bagi London dan Jakarta.
“Lebih dari tiga ratus bahasa dituturkan di London. Tujuh ratus bahasa dituturkan di Indonesia, dan sebagian besar bertemu di Jakarta. Kita sama-sama tahu bahwa kebinekaan adalah karunia Tuhan, dan persatuan adalah hasil kerja tangan manusia,” katanya.
Anies menyatakan ingin memanfaatkan penghargaan tersebut untuk memperluas kerja sama antara Indonesia dan Inggris, khususnya melalui hubungan antarkota.
Dia ingin memperlakukan Freedom ini sebagai pintu, bukan piala. Negara bernegosiasi, kota saling belajar. Melalui pintu ini, Anies berharap dapat mengajak para wali kota, insinyur, guru, dan anak-anak muda Indonesia ke sini, dan mengundang London ke Jakarta.
“Persahabatan Inggris dan Indonesia sudah tua. Persahabatan antarkota kita masih muda, dan justru itulah yang paling besar ruang tumbuhnya,” sambungnya.
Ia menutup pidatonya dengan kata “Merdeka”, yang disebutnya sebagai kata paling dicintai bangsa Indonesia.
Tradisi Sejak Abad ke-13
Menurut situs resmi City of London, tradisi Freedom of the City diyakini bermula pada 1237. Pada masa lalu, status tersebut berkaitan dengan kebebasan seseorang untuk menjalankan perdagangan di wilayah kota.
Seiring perkembangan zaman, maknanya berubah menjadi tradisi sipil yang diberikan melalui sejumlah jalur, termasuk nominasi dan penghormatan khusus.
Winston Churchill tercatat menerima Honorary Freedom pada 1943, sedangkan Nelson Mandela memperoleh penghormatan serupa pada 1996. Keduanya masuk dalam kategori Honorary Freedom, yang oleh City of London disebut sebagai penghormatan tertinggi yang dapat diberikan lembaga tersebut.
Karena terdapat beberapa jalur pemberian Freedom, penerimaan Anies tidak serta-merta berarti ia menerima kategori Honorary Freedom yang sama dengan Churchill dan Mandela. Namun, ketiganya tercatat dalam tradisi sipil bersejarah yang sama.

Rekam Jejak Anies di Forum Internasional
Semasa menjabat Gubernur DKI Jakarta periode 2017–2022, Anies menjadi Vice Chair C40 Cities, jaringan kota-kota besar dunia yang berfokus pada aksi iklim. Ia mendampingi Wali Kota London Sadiq Khan yang menjabat sebagai ketua jaringan tersebut.
Anies juga pernah menerima Lord Mayor Vincent Keaveny di Balai Kota Jakarta pada Juni 2022, setelah sebelumnya berkunjung ke Mansion House di London pada Mei tahun yang sama.
Sejak 2023, Anies tercatat sebagai anggota dewan Asia Research Centre di University of Oxford. Ia juga beberapa kali diundang untuk berbicara di lingkungan akademik Inggris.
Penerimaan Freedom of the City of London membuka peluang bagi Anies untuk memperluas hubungan dengan institusi dan komunitas di Inggris. Namun, sebagaimana ditegaskannya dalam pidato, penghargaan tersebut bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan pintu bagi kerja sama yang diharapkan menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia. (Red)


















