Amarannews.com. Jakarta-Ketua umum Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EN-LMND) Yoga Aldo novensi “Mengecam keras tindakan kekerasan premanisme yang dialami massa aksi EK-LMND Palembang bersama Aliansi Cipayung Plus Kota Palembang saat menyampaikan aspirasi di depan Kantor Kepolisian Daerah Sumatera Selatan pada Selasa (13/10).
Aksi tersebut bertujuan menuntut keseriusan pemerintah dan aparat dalam menyelesaikan bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terus mengancam keselamatan rakyat Sumatera Selatan, khususnya Kota Palembang. Isu karhutla sendiri telah menjadi perhatian luas di Sumatera Selatan sepanjang musim kemarau tahun ini.
Berdasarkan laporan yang diterima EN-LMND dari kawan kawan LMND palembang di lapangan, massa aksi yang menyampaikan tuntutan di depan Polda Sumatera Selatan diduga mendapat serangan dari sekelompok orang yang diidentifikasi sebagai anggota sebuah organisasi kemasyarakatan yang melakukan aksi-aksi premanisme, kekerasan dan pemukulan.
Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa bentrokan tersebut mengakibatkan sejumlah peserta aksi mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis di beberapa rumah sakit di Kota Palembang. EN-LMND juga menerima laporan adanya dugaan bahwa aparat kepolisian tidak mengambil langkah yang memadai untuk segera menghentikan tindakan kekerasan tersebut. Apabila benar terjadi pembiaran terhadap tindakan kekerasan terhadap warga negara yang sedang menyampaikan pendapat di muka umum, maka hal tersebut merupakan preseden yang sangat berbahaya bagi kehidupan demokrasi dan negara hukum.
Ketua umum EN-LMND, Yoga Aldo novensi, menyatakan:
“Negara tidak boleh kalah oleh premanisme. Hak menyampaikan pendapat di muka umum merupakan hak konstitusional warga negara. Ketika mahasiswa yang memperjuangkan hak hidup rakyat justru menjadi korban kekerasan, sementara aparat diduga tidak menjalankan kewajibannya memberikan perlindungan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya keselamatan mahasiswa, tetapi juga kewibawaan negara hukum.”
Ia menyatakan juga bahwa peristiwa aksi di depan Polda Sumatera Selatan tidak hanya memperlihatkan praktik kekerasan oleh kelompok sipil yang diduga menyerang massa aksi, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius mengenai peran aparat kepolisian yang berada di lokasi.
“Kawan kawan LMND di palembang menyatakan bahwa ketika di lapangan terjadi pembiaran dari pihak aparat kepolisian berada di lokasi ketika bentrokan terjadi. Namun, tindakan kekerasan terhadap mahasiswa dan massa aksi tetap berlangsung hingga menyebabkan banyak korban luka yang harus dilarikan ke rumah sakit.
“Kami mengecam keras segala bentuk tindakan premanisme, dan meminta Kapolri mencopot kapolda Polda sumsel, karena sudah melakukan pembiaran aksi premanisme terjadi di kantor Mapolda sumsel.
Berkaca dari rangkaian kejadian yang telah terjadi, kekerasan ataupun setiap bentuk intimidasi terhadap gerakan mahasiswa sesungguhnya merupakan serangan terhadap ruang demokrasi rakyat secara keseluruhan.
EN-LMND menegaskan bahwa perjuangan mahasiswa tidak akan berhenti oleh intimidasi ataupun kekerasan. Demokrasi hanya dapat tumbuh apabila rakyat bebas berserikat, berkumpul, dan menyampaikan pendapat tanpa rasa takut. Oleh karena itu, segala bentuk penggunaan kekerasan untuk membungkam suara rakyat harus dilawan melalui perjuangan demokratis yang terorganisir, konstitusional, dan berpihak pada kepentingan rakyat banyak.
Kontributor : Yusuf Wicaksono
Editor : Redaksi




















