Amarannews.com. Palembang-Bendahara Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Palembang, Resi Febrianti, menyayangkan terjadinya kericuhan dalam aksi demonstrasi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di depan Mapolda Sumatera Selatan, Selasa (13/10/2026).
Menurut Resi, peristiwa tersebut harus menjadi perhatian serius semua pihak. Aksi mahasiswa yang membawa persoalan lingkungan dan kepentingan masyarakat semestinya mendapatkan ruang untuk menyampaikan aspirasi secara aman, terbuka, dan bermartabat.
“Bagi kami, persoalan ini bukan semata-mata tentang kericuhan di lokasi demonstrasi. Ada persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum dihormati dan dilindungi. Jangan sampai aspirasi mahasiswa justru tenggelam karena kekerasan yang terjadi di tengah aksi,” ujar Resi.
Ia menegaskan bahwa demonstrasi merupakan salah satu instrumen demokrasi bagi mahasiswa untuk menyuarakan kepentingan masyarakat. Karena itu, setiap pihak harus mampu menahan diri dan tidak menggunakan kekerasan dalam merespons perbedaan sikap maupun pendapat.
Resi juga menyoroti adanya laporan mengenai mahasiswa dan jurnalis yang menjadi korban dalam kericuhan tersebut. Menurutnya, keselamatan peserta aksi maupun insan pers harus menjadi perhatian bersama, mengingat jurnalis memiliki peran penting dalam mendokumentasikan dan menyampaikan informasi kepada publik.
“Ketika mahasiswa menyampaikan aspirasi dan jurnalis menjalankan tugas peliputan, keduanya harus mendapatkan perlindungan. Tidak boleh ada intimidasi, pemukulan, ataupun tindakan lain yang mengancam keselamatan seseorang. Jika ditemukan dugaan pelanggaran hukum, prosesnya harus ditangani secara profesional dan transparan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Resi meminta aparat penegak hukum mengusut secara menyeluruh penyebab kericuhan, mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat berdasarkan bukti, serta memastikan setiap dugaan tindak kekerasan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Ia juga mengingatkan agar insiden tersebut tidak mengalihkan perhatian publik dari persoalan utama yang disuarakan mahasiswa, yakni penanganan kebakaran hutan dan lahan serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat Sumatera Selatan.
Menurut Resi, persoalan karhutla membutuhkan keseriusan pemerintah dan aparat penegak hukum. Penanganannya tidak cukup hanya dengan respons ketika kebakaran terjadi, tetapi juga harus mencakup pencegahan, pengawasan, penegakan hukum, serta perlindungan terhadap masyarakat yang terdampak.
“Jangan sampai kita terlalu fokus pada kericuhan, sementara persoalan karhutla yang menjadi latar belakang aksi justru kehilangan perhatian. Masyarakat membutuhkan langkah nyata, keterbukaan informasi, dan penegakan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan,” tambahnya.
Sebagai bagian dari gerakan mahasiswa, Resi menegaskan bahwa penyampaian aspirasi harus tetap mengedepankan prinsip demokrasi, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Pada saat yang sama, setiap dugaan kekerasan harus ditangani tanpa tebang pilih.
“Demokrasi tidak boleh dijalankan dengan kekerasan. Mahasiswa harus tetap kritis, masyarakat berhak mendapatkan informasi, dan aparat penegak hukum harus memastikan bahwa setiap warga negara memperoleh perlindungan yang sama di hadapan hukum,” tutup Resi Febrianti.
Resi Febrianti
Kontributor: Yusuf Wicaksono
Editor : Redaksi

















